Kisah Perjuagan Anak Driver Ojol Kuliah di UK, Demi Meraih Mimpi Beasiswa

Kisah Perjuagan Anak Driver Ojol Kuliah di UK, Demi Meraih Mimpi Beasiswa

Kisah Perjuagan Anak Driver Ojol, Nisa bercerita kepada kabarterheboh, ketika orangtuanya hijrah ke Jakarta, usia mereka masih sangat belia. Di mana kala itu, ibu dan bapaknya belum saling mengenal sama sekali sampai akhirnya bertemu dan memutuskan untuk berkeluarga.

Salah satu harapan dari Mama dan Bapak saya, jika diberi keturunan, anak mereka harus memiliki pendidikan yang lebih baik dari mereka,” ungkap dari anak tengah dari tiga bersaudari ini.

Daftar Slot Online

Dia pun mengamini harapan dari orangtuanya itu sebagai sebuah amanah. Apalagi saya melihat orangtuanya banting tulang demi untuk menyambung hidup sekaligus agar anak-anaknya bisa bersekolah semakin memotivasi Nisa untuk belajar dengan tekun.

Sebelum dia menjadi supir ojol, Sukatno bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah sekolah swasta selama puluhan tahun. Dulu pada masa awal saya merantau, Dia hanyalah seorang tukang bersih-bersih halaman saja.

Untuk menambah pemasukan dari keluarga, Sunarsi pun menjadi asisten rumah tangga (ART) di rumah tempat mereka menumpang. Mereka tinggal di sana sampai Nisa duduk di bangku SMP dan pindah ke rumah kecil yang mereka beli dari hasil menabung.

Saking mereka pedulinya sama pendidikan, Bapak dan Mama langsung cari rumah yang dekat sekolah untuk memudahkan aku belajar,” kata Nisa.

Prestasi Nisa mulai terlihat saat dia masuk ke bangku SMA. Oleh karena itu, guru BK dan teman-temanku selalu memotivasi saya untuk kuliah di Universitas Indonesia (UI) lewat jalur beasiswa. Orangtua saya pun mendukung.

Alhasil, Dia memberanikan diri untuk bisa mendaftar meski saya sempat ragu karena merasa lemah dalam berbahasa Inggris, Syarat untuk mendapat beasiswa. Sadar bahwa untuk mempersiapkan berkas beasiswa memakan biaya yang itu tidak sedikit, Dia pun mencari ‘modal’ dengan berjualan kue di sekolah.

Saya masih ingat banget, ketika saya dan Ibu bikin bola-bola coklat buat dijual di sekolah. Di mana Satunya berharga Rp 500, Lumayan lah bisa laku sampai 50 ribu,” kenangnya.

Baca Juga:  Aksi Viral Petugas Kebersihan Temukan Dompet Berisi Emas Di Tempat Sampah

Singkat dari cerita, beasiswa UI berhasil diraihnya pada tahun 2013 dengan pilihan Fakultas Kesehatan Masyarakat. Sebenarnya, Nisa sangat ingin kuliah kedokteran tapi niat tersebut harus di kubur karena ada pertimbangan uang praktik yang terlalu mahal.

Meski tidak sesuai dengan pilihannya, dia tetap bersyukur dengan memanfaatkan waktu yang ada untuk belajar secara tekun. Sembari dia kuliah, Nisa juga sempat kerja part-time demi menambah uang jajan itu.

Nisa Sri Wahyuni dan ibunya saat wisuda S1 Universitas Indonesia

Hari-harinya saya selalu di sibukkan dengan penelitian. Ditambah lagi, dia sampai di percayakan sebagai asisten dosen. Di tengah padatnya kegiatan dia, Nisa dengan tetap rajin untuk mengikuti berbagai kompetisi. Konferensi dan program tukar pelajar internasional yang telah memberinya pengalaman ke luar negeri untuk kali pertama terlepas dari kemampuan dia berbahasa Inggris yang menurutnya sangat pas-pasan.

Saya sebenarnya tipikal orang yang kalau di hadapkan dengan masalah, jadinya tertantang untuk mencari solusinya,” ujarnya. Walau pun sata sibuk di sana-sini, dia tetap berhasil merampungkan studinya hanya dalam kurun 3,5 tahun dan lulus dengan status cumlaud pada 2017.

Setelah Lulus kuliah, dia sempat bekerja sebagai tenaga kesehatan di sebuah rumah sakit ketika akhirnya berniat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Di mana Kali ini, kampus luar negeri menjadi incaran dia, tentu masuk lewat pintu beasiswa.

Nisa dengan paham bahwa kekurangannya dalam berbahasa Inggris bisa menggagalkan impian dia nantinya. Oleh karena itu, dia secara serius selalu meningkatkan kemampuan dia miliki. Pagi-siang, lalu sore-malam, buku panduan berbahasa Inggris selalu di bukanya selagi dia ada kesempatan untuk membaca.

Foto Nisa Sri Wahyuni

Saya memang struggle banget dengan bahasa Inggris. Mau gak mau saya harus belajar terus menerus. Bahkan saat saya naik Transjakarta atau kereta menuju tempat kerja, saya tetap buka buku Cambridge untuk belajar,” ungkap Nisa.

Perjuagan Nisa Tidak sia – sia

Ada tujuh program beasiswa yang saya lamar, tetapi tidak ada yang lolos karena terkendala oleh nilai bahasa Inggris. Nisa sempat ingin menyerah untuk mencapai cita – citanya itu. Namun dengan dukungan dari orangtua dan semangat untuk berjuang, dia terus mencoba KEMBALI sampai akhirnya di terima masuk di Imperial College London untuk studi S2 dalam bidang epidemiologi.

Bagi Nisa, usaha itu tidak pernah mengkhianati hasil. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin dalam dunia ini selama kita masih mau berusaha,” katanya. Selesai S2, dia di terima bekerja di lembaga kesehatan dunia dan sudah di percayakan untuk mengawasi teknis program vaksinasi COVID-19 di Indonesia.

https://118.107.238.76/promotions.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *