Angka Kelahiran Rendah, Pemerintah Singapura akan Membayar Warga Yang Melahirkan

Angka Kelahiran Rendah

Angka Kelahiran Rendah – Singapura sudah menawarkan untuk membayar warganya yang akan menjadi calon orang tua pada masa pandemi Corona ini. Hal itu bertujuan untuk mengatasi angka kelahiran yang sangat rendah di negara tersebut.

Dikutip dari beberapa sumber, Rabu (7/10/2020) Wakil Perdana Menteri Singapura mengatakan rencana itu diberikan untuk membantu meyakinkan orang-orang. Untuk menghadapi tekanan keuangan dan khawatir akan pekerjaan mereka karena saat ini ekonomi sedang drop.

JUDI SLOT ONLINE TERBAIK

“Kami telah menerima beberapa pendapat bahwa COVID-19 menyebabkan beberapa calon orang tua menunda rencana menjadi orang tua,” kata anggota parlemen Heng Swee Keat pada Senin lalu.

“Ini sangat bisa dimaklumi, apalagi mereka menghadapi ketidakpastian pendapatan karena virus yang mewabah saat ini,” ia menambahkan.

Heng juga menjelaskan pembayaran itu akan membantu biaya untuk mengurus anak yang dilahirkan. Akan tetapi, sampai saat ini belum diketahui berapa nominal yang akan didapatkan oleh warga Singapura jika memiliki anak.

Sebagaimana diketahui, kendati Singapura berhasil mengatasi Corona, negara itu tak dapat menghindari resesi yang dalam.

PDB kemungkinan menyusut 12,6 persen pada kuartal II dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Ekonomi menyebut ini merupakan penurunan paling tajam dalam catatan sejarah Singapura.

Di samping tekanan ekonomi, Singapura juga memiliki masalah kependudukan. Negara ini memiliki tingkat kelahiran terendah di dunia.

Pemerintah Singapura juga sudah berusaha untuk memperbaiki kondisi itu sejak 1980-an dengan kampanye publik yang mendorong persalinan dan memberikan insentif keuangan serta pajak yang dapat menghentikan kemerosotan angka kelahiran.

Tingkat kelahiran di Singapura hanya 1,14, artinya seorang perempuan rata-rata hanya melahirkan seorang anak. Posisi Singapura ini sejajar dengan Hong Kong namun lebih baik daripada Korea Selatan dan Puerto Rico.

Agar Singapura tidak kekurangan warga negara, perempuan di sana harus memiliki rata-rata 2,1 bayi. Akan tetapi itu bukan hal mudah, mengingat di negara maju terjadi penurunan proporsi pasangan dan berkurangnya peran gender tradisional yang menyebabkan tingkat kesuburan turun secara global.

“Seperti banyak negara maju, tantangan utama populasi Singapura adalah kesuburan yang rendah dan populasi yang menua,” tulis pemerintah dalam laporan 2011.

“Tujuan kami adalah untuk mencapai populasi berkelanjutan yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan kohesi sosial. Sehingga Singapura tetap bersemangat dan layak huni,”ujar pemerintah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *