Duh! Demi Main perempuan dan Judi Togel, Kades di Sumsel Korupsi Dana Bansos

korupsi

KabarTerheboh.com – korupsi – JPU Kejari Lubuklinggau, Sumatera Selatan, menuntut Kepala Desa Sukowarno Sumatera Selatan, Askari (43) hukuman tujuh th. penjara dan denda Rp200 juta karena menyelewengkan dana bansos Covid-19.

Askari kenakan dana bansos untuk main judi, perempuan dan membayar utang.

JPU Kejari Lubuklinggau Sumar Herti menyatakan kelakuan terdakwa mencegah program pemerintah di dalam pemberantasan korupsi dan penanganan Covid-19 dan juga mengakibatkan kerugian negara.

Hal-hal yang memberatkan bahwa lebih berasal dari satu dana bansos digunakan terdakwa untuk judi, main perempuan dan membayar hutang,” kata Sumar lewat sambungan video persidangan di Pengadilan Negeri Palembang, Senin (12/4/2021).

Sumar tunjukkan terdakwa melanggar pasal Pasal 2 Ayat (1) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan UU Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 18 UU Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan UU Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Tipikor.

Judi Slot Uang Asli

Jaksa juga menuntut terdakwa mengembalikan duit kerugian negara sebesar Rp187,2 juta bersama ketetapan terkecuali denda hukuman tidak dibayar didalam satu bulan sehabis putusan berkekuatan hukum tetap, maka harta benda bisa disita. Dan terkecuali tidak memenuhi maka diganti pidana penjara selama 2,5 tahun,” katanya.

Pada persidangan yang dipimpin hakim ketua Sahlan Effendi tersebut, Askari yang didampingi penasehat hukumnya, Supendi, perlihatkan akan mengajukan pledoi.

Askari dikira menggelapkan dana BLT dana desa Sukowarno Kabupaten Musi Rawas sebesar Rp187 juta saat selamanya menjadi kades terhadap Mei 2020.​​​​

Dana selanjutnya digunakan untuk untuk membayar hutang sebesar Rp31 juta, kemudian Rp5 juta dipinjam oleh seorang warga Suro, Rp6 juta membayar hutang ke warga desanya, Rp15 juta digunakan untuk perayaan Idul Fitri, Rp70 juta digunakan untuk judi togel dan Rp 50 juta digunakan untuk judi remi.

Pada persidangan terhitung terungkap beberapa dana digunakan terdakwa untuk membayar uang muka satu unit mobil miliki selingkuhannya sesama warga Desa Sukowarno.

Desa Sukowarno yang dipimpin terdakwa mengalokasikan dana sebesar Rp280 juta untuk 156 kepala keluarga penerima pertolongan segera tunai dana desa (BLTDD) Covid-19 bersama dengan anggaran Rp600.000 selama tiga bulan terhadap 2020.

Namun terdakwa menghendaki Kaur Keuangan Desa Sukowarno, Ratih untuk mengajukan pencairan anggaran sebesar Rp370 juta bersama bersama mengimbuhkan sebagian item pengeluaran baru.

Kemudian terdakwa berkunjung ke Ratih mempunyai cek kosong, terdakwa memintanya di tandatangani cek kosong itu bersama dengan dalih supaya lebih mudah menarik dana pemberian berasal berasal dari bank kala jadwal pencairan.

Terdakwa selanjutnya mencairkan dana sebesar Rp370 juta berasal dari bank pada Mei 2020, sesudah itu pada 22 Mei 2020 dana berikut disalurkan ke 156 KK penerima BLTDD untuk cara I sebesar Rp93 juta berasal dari Rp280 juta yang sudah dialokasikan.

Sedangkan anggota II dan III sebesar 187 juta tidak terdakwa salurkan kepada penerima melainkan digunakan untuk menaikkan kekayaan terdakwa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *