Video Call Sex Anggota DPRD Sambas Diduga Pemerasan

Video Call Sex Anggota DPRD

Video Call Sex Anggota DPRD – Rekaman video call sex (VCS) seorang perempuan dengan anggota DPRD Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat inisial BK ternyata merupakan tindakan pemerasan. Sampai saat ini Polisi berhasil menangkap empat pelaku.

Salah satu yang ditangkap, yakni perempuan yang ada dalam rekaman video call sex itu. Sedangkan dua orang merupakan narapidana yang mendekam di Lapas kelas II A Pontianak.

JUDI SLOT ONLINE TERBAIK

“Tim gabungan Sat Reskrim Polres Sambas dan Tim Siber Polda Kalbar mengamankan empat tersangka yang merencanakan pemerasan,” kata Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Donny Charles Go di Pontianak, Senin (21/9/2020).

Empat pelaku itu yakni G sebagai otak pemerasan, dan A yang mendekam di Lapas II A Pontianak. Berikutnya D, perempuan yang berada di dalam video, dan R yang memposting video tersebut ke media sosial.

Donny menjelaskan, kronologi pengungkapan kasus ini bermula dari laporan yang diterima Polres Sambas. Laporan itu tentang video yang menghebohkan berisi rekaman video call sex anggota DPRD Sambas dengan seorang perempuan.

Karena mendapat laporan seperti itu, Polres Sambas berkoordinasi dengan tim siber Polda Kalimantan Barat untuk melakukan penyelidikan. Dari hasil penyelidikan ditemukan dua nomor telepon seluler yang melakukan pengancaman melalui pesan WhatsApp kepada korban.

“Petugas melakukan pencarian terhadap 2 nomor handphone yang digunakan melakukan pengancaman menyebar video dan melakukan pemerasaan,” ujarnya.

Kemudian tim melakukan pelacakan berdasarkan nomor tersebut dan mendapati seorang bernama A yang baru saja keluar dari Lapas kelas II A Pontianak. Berdasarkan keterangan A yang bebas pada Agustus 2020, dia mengaku meminjamkan handphone beserta nomor milikya kepada G yang merupakan temannya yang ada didalam tahanan.

Karena adanya laporan, petugas memeriksa G di dalam lapas. G akhirnya mengakui perbuatannya yakni menyuruh pelaku perempuan inisial D menghubungi korban untuk melakukan ajakan video call sex (VCS).

Setelah itu, pelaku D berhasil mengajak korban untuk melakukan video call sex. Dia juga merekam aktivitas tersebut dan mengirimkan kembali kepada G.

BERITA BOLA TERBARU

Saat video tersebut sudah diterima oleh G, dia menghubungi korban dari dalam lapas dan meminta uang sejumlah Rp4 juta sebagai kompensasi video tersebut agar tidak tersebar luas ke publik.

“Untuk jangka waktunya cukup lama, dari tanggal 22 Agustus para pelaku ini mulai menghubungi korban untuk meminta sejumlah uang. Hingga akhirnya pada tanggal 8 September video tersebut di-upload ke beberapa grup komunitas masyarakat,” ujarnya.

Kemudian, setelah video tersebut tersebar ke beberapa grup Facebook, para pelaku ini kembali melakukan pemerasaan kepada korban. Pelaku kembali meminta uang sebesar Rp4 juta untuk menghapus postingan video tersebut yang tersebar di media sosial. Korban yang merasa ketakutan lalu mentransfer Rp4 juta ke pelaku.

Dia mengatakan, barang bukti yang diamankan petugas yaitu satu slip lembar pengiriman uang sebesar Rp4 juta, screen shoot percakapan melalui pesan WhatsApp dan handphone milik para pelaku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *