Pelecehan Seksual Rapid Test di Soekarno-Hatta Belum Melapor ke Polisi

Pelecehan Seksual Rapid Test

Pelecehan Seksual Rapid Test – Polres Bandara Soekarno-Hatta sampai sekarang ini belum menerima laporan terkait kasus pelecehan seksual kepada seorang perempuan yang sedang melakukan rapid test di Bandara Soekarno-Hatta.

Peristiwa itu disampaikan oleh Kasat Reskrim Polres Bandara Soekarno-Hatta Kompol Alexander Yurikho. “Sampai saat ini belum laporan,” ungkap Kasat Reskrim Polres Bandara Soekarno-Hatta.

JUDI SLOT ONLINE TERBAIK

Korban pelecehan kemungkinan sulit untuk membuat laporan lantaran yang bersangkutan berdomisili di Bali.

Akan tetapi, Alex mengklaim bahwa penyidik saat ini sedang mengumpulkan beberapa fakta-fakta terkait kasus yang saat ini viral di media sosial tersebut.

“Insya Allah penyelidik Sat Reskrim Polresta Bandara Soetta akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan kasus ini dengan melakukan beberapa upaya yang bisa dilakukan dalam ranah penyelidikan,” ucap Alex.

Menurut LHI, kejadian tersebut terjadi pada 13 September lalu saat dia hendak terbang dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta menuju Nias, Sumatera Utara.

“Saya penerbangannya kan jam 6 (pagi), enggak sempat rapid juga di rumah sakit kemarin itu. Jadi saya sampai di bandara jam 4 pagi. Sekalian mau rapid test di bandara,” ujar dia kepada Kabaerterheboh,com, Jumat (18/9/2020) malam.

LHI kemudian melakukan rapid test di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, di fasilitas rapid test yang disediakan oleh Kimia Farma.

Setelah melakukan rapid test, LHI mengatakan, petugas pria yang memeriksanya secara tidak terduga melakukan pelecehan seksual kepada dirinya. Awalnya petugas itu mengatakan hasil rapid test LHI reaktif.

“Ya sudah saya mikir enggak jadi ke Nias karena takut nularin juga kepada orang-orang di Nias,” kata dia. Akan tetapi, petugas pria itu menyarankan agar LHI lakukan tes ulang dan dia menjamin akan memberikan hasil nonreaktif pada tes kedua yang dilakukan itu.

Korban bingung karena merasa ada sesuatu yang tidak beres, tetapi kemudian mengikuti usulan dari pria itu.

Setelah LHI mendapat hasil rapid test dengan hasil nonreaktif dan hendak menuju tempat keberangkatan, terduga pelaku rupanya mengejar dan kemudian menghampirinya.

Petugas itu, kata LHI, meminta uang untuk keterangan nonreaktif yang sudah dikeluarkannya. Korban pun merasa diperas oleh pelaku.

BERITA BOLA TERBARU

Karena tidak mau ribet pada pagi hari itu, LHI kemudian mentransfer uang sebesar Rp 1,4 juta melalui ponselnya ke rekening pribadi terduga pelaku.

Setelah itu, tanpa disadari, pria tersebut melakukan kekerasan seksual dengan mencium korban dan meraba bagian dadanya. Hal itu membuat korban menjadi syok dan trauma.

Kondisi bandara saat itu masih sepi. Waktu masih sekitar pukul 04.00 WIB. Korban yang dalam keadaan syok merasa tidak bisa melawan ataupun teriak untuk meminta pertolongan.

Setelah tiba di Nias. LHI melaporkan kejadian yang dia alami ke polisi setempat. Akan tetapi, polisi setempat menyarankan untuk melapor ke polisi di mana kejadian perkara berlangsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *